Vegetarian, Bhiksu Dan Daging Tiruan   Leave a comment

Apakah menjadi vegetarian adalah keharusan bagi umat Buddha?
Dalam ajaran Buddha, menjadi vegetarian atau tidak tergantung sepenuhnya pada pribadi itu sendiri. Apa yang ditekankan dalam ajaran Buddha bukanlah kemurnian dari makanan, tetapi kemurnian pikiran. Tentu saja banyak umat Buddha yang kemudian menyadari kekejaman yang terlibat dari konsumsi daging, yang tidak lebih dari daging binatang malang. Banyak yang berhasil dalam mengakhiri nafsu keinginan dan keterikatan pada konsumsi daging, dan pada akhirnya menjadi vegetarian atas kehendak mereka sendiri. Akan tetapi, apabila menjadi vegetarian tidak sesuai atau terlalu sulit, maka ambillah jalan dimana Anda merasa nyaman dengannya. Meskipun demikian, menjadi vegetarian sekurang-kurangnya sekali atau dua kali dalam sebulan adalah cara yang baik dalam mempraktekkan belas kasih pada semua makhluk hidup, dengan kesadaran menghadari daging setidaknya pada hari itu.

Mengapa sebagian bhikkhu makan daging?
Buddha menolak larangan makan daging diantara pengikut Beliau. Beliau memiliki alasan yang sangat praktis dalam hal ini. Karena sayur-sayuran tidak cukup tersedia di beberapa area, atau bisa jadi sangat langka pada musim kering. Sebagai contoh, sayuran sangat terbatas di daerah seperti Tibet. Para bhikku bertahan hidup dengan cara meminta sedekah – pindapata – dan apabila meminta sedekah hanya dibatasi pada sayur-sayuran, maka hal ini bisa menjadi beban besar bagi umat awam yang mendukung para bhikku. Jadi, para bhikku makan apa saja yang diberikan kepada mereka, bahkan jika itu daging, sepanjang binatang tersebut tidak secara khusus dibunuh untuk mereka. Dewasa ini, walaupun banyak bhikkhu dan vihara memiliki pilihan untuk makan sayur-sayuran. Namun, harus diperhatikan bahwa sebagian besar bhikkhu dalam tradisi Mahayana adalah vegetarian ketat. Daging tiruan adalah makanan popular vegetarian yang terbuat dari ketan, kacang kedelai atau jamur yang meniru tampilan dan rasa dari daging asli. Umat Vegetarian Buddhis terkadang dituduh munafik karena mereka mengaku menghindari daging namun makan segala jenis daging tiruan. Kaum vegetarian umumnya tidak berkeinginan untuk mengkonsumsi sesuatu yang melibatkan penderitaan dan pembunuhan dari hewan yang malang. Jadi mereka tidak memandang daging tiruan sebagai ‘daging’ tetapi hanyalah sesuatu yang memberikan keragaman makanan. Daging tiruan pada awalnya diproduksi untuk menarik non vegetarian pada makanan vegetarian. Misalnya, daging tiruan tersebut dapat dimakan oleh pemakan daging yang ingin menjadi vegetarian, berhubung makanan tersebut memudahkan transisi menuju vegetarian penuh. Dalam kasus apapun, makan daging tiruan masih jauh lebih baik dari makan daging binatang hidup.

Buddha : ” semua makhluk mencintai kehidupan, semua makhluk mencintai kebahagiaan. Dengan diri sendiri sebagi perbandingan, kamu tidak seharusnya melukai, atau membunuh, atau menyebabkan luka atau terbunuhnya makhluk lain” 🙂

Iklan

Posted Agustus 3, 2011 by Happy 24 Jam in Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: